Friday, 27 March 2015

Seni Bangunan



Seni Bangunan 

Hasil gambar untuk Seni Bangunan

            Sebagaimana kehidupan hidup, budaya Melayu juga melalui tingkat-tingakt tertentu. Justeru itu akan mempunyai nilai untuk melestarikan kemajuan yang berkesinambungan yang bergantung kepada keberhasilan mengatasi tantangan  sewaktu waktu, baik dari dalam maupun dari luar. Seni bangunan adalah satu isyarat dan peringatan tentang tumpang tindih dan konflik budaya yang akan berlaku. Budaya Melayu sudah teruji kemampuannya melalui proses persaingan. Sikap menerima penyesuaian (accommodating attitude) dalam dunia semakin sempit akibat komunikasi yang pantas dan segera; budaya Melayu tidak mungkin berkembang secara tersendiri. Bahkan budaya Melayu bertindih dan sandar menyandar dengan budaya lain.
Penggunaan  sain dan teknologi sebagai alat dasar kemajuan adalah nyata dan luas, akan terjadi perkembangan, penemuan, ilmu dan pengetahuan baru. Ia menjadi penggerak pembangunan, pengangkutan, komunikasi, pertahanan, kesehatan, dan sebagainya. Evolusi sosial sebagai proses pembentukkan budaya turut dipengaruhi. Namun begitu budaya Melayu yang kaya dengan tradisi, adat istiadat, dan seni sangatlah miskin dengan sains dan teknologi. Sains dan teknologi yang ada  dalam budaya Melayu adalah merupakan pinajaman dari bangsa dan budaya lain. Jika sains dan teknologi itu ditarik balik sudah tentu akan terlihat bahwa budaya Melayu sangat miskin dan hal ini. Ini karena sejarah membuktikan bahwa budaya Melayu lebih asyik dengan pemerintahan dan politik, lebih memberi tumpuan kepada agama dan sebagai penumpang dan pengguna. Akibatnya mereka ketinggalan dalam aspek penciptaan (invention), rekan yang manjadi darah daging sains dan teknologi.
Dalam suatu masyarakat yang dari segi penggunaan peralatan masih rendah dan terbatas, kemampuan untuk mengolah bahan untuk mendirikan bangunan juga terbatas. Bahan Bangunanan bangunan digunakan dengan seadanya saja. Umpamanya, untuk sebuah tiang yang besar dipilih penampang dan berdasarkan tinggi pohon yang diinginkan tanpa terlalu banyak memerlukan pemotongan. Pada masa yang sama, perkembangan kebudayaan mendorong manusia menggambarkan keterampilan dalam menguasai alam. Naluripun mendorong untuk mencipta suatu yang memuaskan hati, yaitu keindahan. Maka berkembanglah kemahiran dalam kerajinan tangan yang berseni (kraft) dalam mengelolah bangunan tersebut, lalu wujud pula berbagai-bagai jenis seni hias yang menarik.
Bahan Bangunanan yang asli (indigeneous) ada yang bersifat organic seperti berbagai-bagai jenis pohon atau bambu, rumput dan daun yang khususnya digunakan untuk membuat atap. Disamping itu ada bahan Bangunanan yang tidak organic seperti berbagai-bagai jenis tanah dan batu-batuan termasuk pasir sungai, batu karang laut dan sebagainya. Perkembangan zaman membawa kemajuan dan teknologi bahan Bangunanan sehingga timbul berbagai bahan Bangunanan yang baru yang memperngaruhi seni Bangunanan tradisional.
Pada abad pertama Masehi bermula zaman sejarah dan berakhirnya zaman prasejarah. Satu budaya luar datang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh zaman prasejarah yaitu budaya Hindu-Budha. Hasil daripada interaksi budaya tempatan dengan Hindu-Budha itu, lahirlah satu bentuk budaya yang menarik dalam konteks ini, hasil peninggalan budaya Hindu-Budha dan tempatan dapat dilihat satu adunan seni Bangunan yang dilahirkan dalam bentuk bangunan candi seperti yang terdapat di Muara Takus.

Kedatangan Islam telah merubah cara berfikir dan cara hidup sebahagian besar penduduk tempatan terutamanya orang Melayu. Dalam seni Bangunan, selain rumah kediaman yang telah disesuaikan dengan kehendak dan aturan agama Islam, lahir juga beberapa bentuk seni Bangunan Melayu seperti seni Bangunan mesjid, surau, madrasah, istana raja-raja Melayu, rumah wakaf dans eni Bangunan makam atau pusara.
Apabila orang Melayu mulai memasuki zaman modern, seni Bangunan tempatan juga turut berubah. Bentuk rumah mereka bertukar corak daripada rumah berbumbung panjang yang melambangkan seni Bangunan tradisi kepada rumah berbumbung limas yang merupakan bentuk seni modern. Masjid yang diBangunan oleh orang Melayu juga yang dulunya dikenali masjid atap tumpang kini bertukar kepada bangunan konkrit dan berkubah  potong bawang, berperabung lima atau bentuk lima.

No comments:

Post a Comment