Seni Bangunan
Sebagaimana kehidupan hidup, budaya
Melayu juga melalui tingkat-tingakt tertentu. Justeru itu akan mempunyai nilai
untuk melestarikan kemajuan yang berkesinambungan yang bergantung kepada
keberhasilan mengatasi tantangan sewaktu
waktu, baik dari dalam maupun dari luar. Seni bangunan adalah satu isyarat dan
peringatan tentang tumpang tindih dan konflik budaya yang akan berlaku. Budaya
Melayu sudah teruji kemampuannya melalui proses persaingan. Sikap menerima
penyesuaian (accommodating attitude) dalam dunia semakin sempit akibat
komunikasi yang pantas dan segera; budaya Melayu tidak mungkin berkembang
secara tersendiri. Bahkan budaya Melayu bertindih dan sandar menyandar dengan
budaya lain.
Penggunaan sain dan teknologi sebagai alat dasar
kemajuan adalah nyata dan luas, akan terjadi perkembangan, penemuan, ilmu dan
pengetahuan baru. Ia menjadi penggerak pembangunan, pengangkutan, komunikasi,
pertahanan, kesehatan, dan sebagainya. Evolusi sosial sebagai proses
pembentukkan budaya turut dipengaruhi. Namun begitu budaya Melayu yang kaya
dengan tradisi, adat istiadat, dan seni sangatlah miskin dengan sains dan
teknologi. Sains dan teknologi yang ada
dalam budaya Melayu adalah merupakan pinajaman dari bangsa dan budaya
lain. Jika sains dan teknologi itu ditarik balik sudah tentu akan terlihat
bahwa budaya Melayu sangat miskin dan hal ini. Ini karena sejarah membuktikan
bahwa budaya Melayu lebih asyik dengan pemerintahan dan politik, lebih memberi
tumpuan kepada agama dan sebagai penumpang dan pengguna. Akibatnya mereka
ketinggalan dalam aspek penciptaan (invention), rekan yang manjadi darah
daging sains dan teknologi.
Dalam
suatu masyarakat yang dari segi penggunaan peralatan masih rendah dan terbatas,
kemampuan untuk mengolah bahan untuk mendirikan bangunan juga terbatas. Bahan
Bangunanan bangunan digunakan dengan seadanya saja. Umpamanya, untuk sebuah
tiang yang besar dipilih penampang dan berdasarkan tinggi pohon yang diinginkan
tanpa terlalu banyak memerlukan pemotongan. Pada masa yang sama, perkembangan
kebudayaan mendorong manusia menggambarkan keterampilan dalam menguasai alam.
Naluripun mendorong untuk mencipta suatu yang memuaskan hati, yaitu keindahan.
Maka berkembanglah kemahiran dalam kerajinan tangan yang berseni (kraft) dalam
mengelolah bangunan tersebut, lalu wujud pula berbagai-bagai jenis seni hias
yang menarik.
Bahan
Bangunanan yang asli (indigeneous) ada yang bersifat organic seperti
berbagai-bagai jenis pohon atau bambu, rumput dan daun yang khususnya digunakan
untuk membuat atap. Disamping itu ada bahan Bangunanan yang tidak organic
seperti berbagai-bagai jenis tanah dan batu-batuan termasuk pasir sungai, batu
karang laut dan sebagainya. Perkembangan zaman membawa kemajuan dan teknologi
bahan Bangunanan sehingga timbul berbagai bahan Bangunanan yang baru yang
memperngaruhi seni Bangunanan tradisional.
Pada abad
pertama Masehi bermula zaman sejarah dan berakhirnya zaman prasejarah. Satu
budaya luar datang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh zaman prasejarah
yaitu budaya Hindu-Budha. Hasil daripada interaksi budaya tempatan dengan
Hindu-Budha itu, lahirlah satu bentuk budaya yang menarik dalam konteks ini,
hasil peninggalan budaya Hindu-Budha dan tempatan dapat dilihat satu adunan
seni Bangunan yang dilahirkan dalam bentuk bangunan candi seperti yang terdapat
di Muara Takus.
Kedatangan
Islam telah merubah cara berfikir dan cara hidup sebahagian besar penduduk
tempatan terutamanya orang Melayu. Dalam seni Bangunan, selain rumah kediaman
yang telah disesuaikan dengan kehendak dan aturan agama Islam, lahir juga
beberapa bentuk seni Bangunan Melayu seperti seni Bangunan mesjid, surau,
madrasah, istana raja-raja Melayu, rumah wakaf dans eni Bangunan makam atau
pusara.
Apabila
orang Melayu mulai memasuki zaman modern, seni Bangunan tempatan juga turut
berubah. Bentuk rumah mereka bertukar corak daripada rumah berbumbung panjang
yang melambangkan seni Bangunan tradisi kepada rumah berbumbung limas yang
merupakan bentuk seni modern. Masjid yang diBangunan oleh orang Melayu juga yang
dulunya dikenali masjid atap tumpang kini bertukar kepada bangunan konkrit dan
berkubah potong bawang, berperabung lima
atau bentuk lima.
No comments:
Post a Comment